Pa Ha’dang ‘beli Musik Tradisional Sumba Timur

Sumba sebagai salah satu destinasi wisata baru yang sedang menjadi pusat perhatian dunia tentunya membawa berkat tersendiri bagi masyarakatnya. Keindahan alam, keunikan budaya, dan musik tradisional adalah beberapa obyek wisata yang bisa dinikmati oleh para pelancong ketika berkunjung ke Sumba. Sayangnya dari sisi vitality dan viability budaya Sumba terindikasi mulai terancam hilang ditelan zaman.

Ditengah kebangaan akan terkenalnya Sumba di dunia pariwisata, masyarakat Sumba khususnya masyarakat adatnya diperhadapkan dengan gelombang peradaban modern yang kemudian mulai mendegradasi budaya asli Sumba, diantaranya adalah musik tradisional yang mulai ditinggalkan dan kehilangan makna karena kecenderungan masyarakat untuk beralih kepada genre musik kekinian/modern seperti Pop, Rock, blues, dang dut, dll., padahal genre musik tradisional Sumba Timur memiliki keunikan tersendiri baik dari alat yang digunakan, cara memainkan sampai pada pesan-pesan sarat makna pengajaran, nasehat dan nuansa sakral dalam bait-bait lagu yang dinyanyikan oleh orang-orang yang memiliki bakat khusus.

Hal lainnya yang juga perlu mendapatkan perhatian serius adalah proses pelestarian musik tradisional tersebut juga belum berjalan dengan baik. Masih minimnya aktifitas menurunkan pengetahuan dan ketrampilan bermusik atau bernyanyi dari para orang tua kepada generasi muda karena tidak didukung oleh sumber daya maupun infrastruktur yang mamadai mengakibatkan munculnya kekuatiran akan keberlangsungan musik tradisional Sumba Timur, termasuk ketidak mampuannya untuk bertahan diantara gempuran genre musik modern. Hal ini disampaikan oleh beberapa tokoh masyarakat dan tokoh adat yang menyorot tentang mulai punahnya kebiasaan-kebiasaan dimasyarakat yang berhubungan dengan kebiasaan turun-temurun termasuk nyanyian tradisional baik untuk kebutuhan ritual, mendidik anak atau dalam acara pertunjukan di desa-desa.

Keprihatinan inilah yang kemudian mendorong Sumba Integrated Development (SIDe) didukung oleh VOICE Indonesia merancang sebuah program revitalisasi musik tradisional Sumba Timur dengan mengajak kerja kolaborasi beberapa seniman lokal untuk menghidupkan kembali kepedulian dan mentransfer nilai-nilai budaya melalui musik tradisional dari generasi ke generasi dengan cara mulai mendokumentasikan dalam bentuk audio-vidio dan juga dibukukan genre musik tradisional Sumba yang masih dapat ditemukan.

Program ini dimulai pada bulan November 2019 dan akan berakhir pada bulan Oktober 2020 dengan harapan minimal akan terdokumentasi 5 genres musik di setiap desa dari 3 desa yang menjadi target lokasi program yaitu desa Mbatakapidu,  Hanggaroru dan Kamanggih.

Tanggal 16 November telah dilakukan musyawarah, sosialisasi sekaligus survey terhadap vitality dan viability musik tradisional Sumba Timur di Desa Mbatakapidu yang menghadirkan perwakilan tokoh masyarakat, tokoh adat, para seniman lokal, pemerintah desa dan beberapa anak muda. Kegiatan ini didesain dalam bentuk pertunjukan musik tradisional Sumba Timur oleh para seniman lokal seperti, Kahi Ata Ratu, Haling, Pura Tanya dan Jekshon, penjelasan terkait tujuan program dan kegiatan-kegiatan yang akan dijalankan serta para peserta diberikan kesempatan untuk mengisi daftar pertanyaan survey Music Vitality and endangerment framework (MVEF) yang dikembangkan oleh Prof. Catherine Grant.

Kegiatan tersebut juga menghasilkan kesepakatan rencana aksi bersama untuk menyelenggarakan pagelaran musik dan tarian tradisional di desa Mbatakapidu yang akan kembali menghadirkan seniman lokal untuk bernyanyi diiringi permainan jungga 4 senar, jungga 2 senar, Nggunggi, dan jungga au, serta tarian tradisional sesuai lagu yang dinyanyikan, termasuk juga rencana dokumentasi nyanyian dalam ritual akan dibuat saat pelaksanaan ritual dengan waktu yang ditentukan oleh masing-masing suku. by vian

 

Share
comments
comments
Dikembangkan oleh Taman Komputer