Anak sebagai agen perubahan (Pendidikan untuk semua)

Pendidikan adalah bagian terpenting bagi setiap orang sebagai bagian dari proses persiapan diri menghadapi berbagai kebutuhan menjalani kehidupan yang kompetitif. Pengalaman yang didapatkan melalui peroses pendidikan idealnya akan menjadikan seseorang memiliki kompetensi yang meliputi pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang baik. Kesadaran akan pentingnya pendidikan harus terus ditumbuh kembangkan sejak dini kepada anak-anak dan juga kesadaran yang sama harus dibangun dalam diri para orang tua, sehingga motisasi untuk terus belajar dan mengenyam pendidikan bagi anak-anak akan didukung pula oleh keberpihakan orang tua dalam bentuk usaha terus menerus untuk mewujudkan impian anak-anak mereka.

Dalam konteks wilayah kerja dari Sumba Integrated Development; di Sumba Timur yang meliputi 15 desa dan di kabupaten Sumba Barat Daya 14 desa, kesadaran dan keinginan anak-anak untuk bersekolah sangat tinggi, sebahagian besar anak-anak tersebut memiliki cita-cita untuk dapat bersekolah sampai ke jenjang universitas atau kuliah. Sayangnya untuk menggapai mimpi mereka tersebut terdapat banyak hambatan yang mereka hadapi, terutama yang berhubungan dengan biaya pendidikan yang seringkali tidak dapat keluarga mereka sediakan. Ada banyak faktor penyebab antaralain, disamping faktor ekonomi yang menjadi alasan utama, hal-hal yang terkait dengan adat istiadat, seperti biaya pesta adat baik adat kematian maupun perkawinan serta bentuk seremonial lainnya telah menguras cukup banyak sumberdaya keluarga sehingga kebutuhan pendidikan anak sering terabaikan. Menjaga wibawa dan kehormatan keluarga ditengah komunitas dengan selalu turut serta dalam berbagai event budaya yang diselenggarakan dan seringkali harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit menjadi salah satu tantangan utama bagi keberlanjutan pendidikan anak. Hal ini juga sering disampaikan oleh orang tua yang mengeluhkan tentang kondisi tersebut, tetapi mereka sepertinya tidak berdaya untuk keluar dari kebiasaan yang telah berlaku turun temurun ini.

Beberapa anak yang dijumpai menceritakan bahwa mereka terpaksa harus mengubur impiannya untuk melanjutkan pendidikannya ke SMA atau bangku kuliah karena kekurangan atau ketiadaan biaya, pilhannya adalah selesai sekolah pada jenjang yang mampu mereka lalui, mereka harus bekerja di sektor informal baik sebagai penjaga toko, pembantu rumah tangga atau bekerja diperkebunan, tidak jarang mereka terpaksa harus pergi jauh dari rumah, keluar daerah untuk bekerja. Beberapa diantara mereka ada yang terpaksa harus menikah, khususnya bagi anak perempuan yang sudah cukup dewasa dan tidak dapat melanjutkan sekolah lagi. Ketika anak-anak berhenti sekolah karena terpaksa yang disebabkan ketiadaan biaya pendidikan, maka kemungkinan untuk mereka dieksploitasi akan sangat besar, misalnya; bekerja dengan upah murah tanpa perlindungan sosial yang memadai, diperdagangkan menjadi tenaga kerja ilegal, atau bentuk bentuk kekerasan eksploitasi lainnya, termasuk pernikahan diusia anak. 

Menyadari dan mengamati fenomena tersebut, kurang lebih selama 10 tahun terakhir SID telah memfasilitasi beberapa anak untuk mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari berbagai sumber khususnya dari donatur internasional yang konsern terhadap pendidikan anak-anak. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terdapat + 300an anak yang telah dibantu dengan beasiswa, diantara mereka ada yang dibantu sejak masih duduk dibangku SMP sampai kuliah dan kini telah bekerja. Walaupun bantuan yang diberikan tidak besar jumlahnya, sekitar 1 juta rupiah utk anak SMA dan 2 juta rupiah untuk anak-anak yang sementara kuliah tetapi hal tersebut dirasakan sangat membantu anak-anak dan memotifasi mereka untuk belajar. Pada bulan Desember 2016, SID mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan lagi bantuan biaya pendidikan untuk 14 anak perempuan yang duduk dibangku SMA. Bahagia sekali ketika melihat wajah ceria mereka dapat menggunakan bantuan tersebut untuk membeli keperluan sekolah mereka, seperti alat tulis, sepatu atau seragam. Mereka sangat senang karena mereka diberikan kepercayaan untuk mengelola dana pendidikan tersebut secara mandiri, dalam bimbingan lembaga tentunya. Selain mendapatkan manfaat meringankan beban biaya pendidikan mereka, juga melatih mereka untuk bertanggungjawab dalam pengelolaan keuangan. 

Mengapa anak perempuan ? lembaga melihat bahwa anak-anak perempuan adalah calon ibu yang harus dicerdaskan agar hadir generasi-generasi mendatang yang berkualitas, diyakini bahwa dari ibu yang cerdas akan lahir anak-anak yang cerdas pula, disamping berdasarkan pengalaman empirik bahwa anak-anak perempuan yang putus sekolah lebih rentan untuk dieksploitasi dalam berbagai bentuk yang tidak menguntungkan bagi mereka.

Membenahi kondisi daerah yang masih tergolong terbelakang dalam berbagai hal memang tidak mudah dikarenakan ada berbagai hal yang mempengaruhi, tetapi kita dapat memulai untuk memberikan input bermakna dengan cara mempersiapkan generasi mendatang yang lebih baik dari generasi saat ini, sehingga jika saat ini perubahan itu belum dapat kita nikmati paling tidak nantinya kita dapat menyaksikan anak-anak kita akan menjadi agen perubahan yang akan mewujudkan mimpi indah kita tentang kesejahteraan dan kemakmuran daerah tercinta.

Sumba adalah tanah yang kaya dan diberkati dengan sumberdaya yang melimpah, hanya perlu sentuhan orang-orang pilihan yang memiliki kompetensi mumpuni untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bermakna, dan itu bisa kita wujudkan dengan mempersiapkan anak-anak kita hingga menjadi kreator inovatif melalui pendidikan untuk semua, pendidikan terbaik yang menjadi HAK mereka. 

Jika merubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan itu terasa sulit, maka ciptakan sesuatu yang baru, sehingga yang lama tersebut akan terlihat kuna dan usang. va/sid

Share
comments
comments
Dikembangkan oleh Taman Komputer